Rabu, 01 Mei 2013

WARNA KEHIDUPAN



credit


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog Bersama Anging Mammiri, minggu keempat. 


Aku sangat ingat kapan pertama kali aku mengenal warna primer. Ya, di kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat itu ada salah satu mata pelajaran yang namanya “Seni Rupa” dan “Seni Ukir”. Dua mata pelajaran ini diasuh oleh seorang guru. Namanya Bapak Sutopo. Kami memanggilnya Pak Topo. Orangnya tinggi kecil: jangkung. Beliau pendiam, nyeni, dan anggun.
 
Di kelas 1 itu pak Topo mengajari kami tentang warna primer yang terdiri dari 3 warna, yaitu biru, merah, dan kuning. Kami pun diberi tugas untuk melukiskan warna-warna itu di atas kertas gambar dengan cat air. Alhamdulillah, hasil lukisan warna primerku bagus. Sehingga sampai sekarang aku masih ingat betul seperti apa lukisanku itu :) Baru setelah itu kami mempelajari tentang percampuran warna-warna primer tersebut menjadi warna sekunder, dan seterusnya. Mengasyikkan.

Namun sebenarnya bukan tentang warna primer dan sekunder dalam arti sesungguhnya itu yang akan jadi inti tulisanku kali ini. Tapi apa yang pernah pak Topo katakan pada kami, aku ingat betul sejak beliau mengatakannya hingga sekarang. Di saat-saat tertentu perkataan beliau tersebut terngiang-ngiang di telingaku. Perkataannya tak jauh dari materi pelajaran yang diampunya, yaitu:
 

“Kalau Anda nanti terus menuntut ilmu sampai ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, tujuan Anda hendaklah jangan karena materi. Karena sejatinya menuntut ilmu setinggi-tingginya itu bukan untuk mencari materi, tapi untuk terus mendewasakan Anda.”

Itu salah satu kalimat yang aku ingat. Selebihnya, menurut pak Topo, hidup itu seni, hidup itu penuh warna. Bagaimana kita menyikapi hidup dan kehidupan, mau seperti apa warna hidup kita, kitalah yang menentukan. Dan kata-kata pak Topo itu sedikit banyak ikut mewarnai pemikiranku selama ini.

Memang setiap orang pasti mempunyai pemikiran yang berbeda-beda. Hal itu tergantung latar belakang keluarga, lingkungan, pendidikan, budaya, dan lain sebagainya. Kalau pemikiran tiap orang sama, hidup jadi nggak berwarna, dong :)

Ada orang yang menuntut ilmu memang agar bisa menjadi sukses secara finansial, biar bisa punya banyak tanah, bayak rumah, sehingga anak-anaknya kelak dapat hidup makmur. Sah-sah saja. Ada pula yang ingin sekolah tinggi supaya bisa menjadi tenaga pendidik yang dapat menyalurkan ilmu-ilmunya kepada orang banyak. Itu juga oke. Banyak pula orang yang bercita-cita menjadi dokter, pemadam kebakaran, dan sebagainya agar dapat menolong banyak orang. Itu juga mulia. Tak sedikit pula yang ingin sekali menjadi ustadz/ustadzah ataupun alim ulama agar dapat mendakwahkan ayat-ayat Allah SWT. Itu pun indah sekali.

Semua orang punya tujuannya sendiri-sendiri. Sebagai apapun peran kita di dunia, dalam hidup tentu tak lepas dari materi. Selanjutnya materi yang kita peroleh itu untuk tujuan apa, kitalah yang berhak menentukan. Tetapi sebagai manusia tentunya ada aturan-aturan hidup yang membuat kita tak bisa bertingkah semaunya. Ada keluarga, ada lingkungan, ada agama, dan ada banyak hal lain yang membuat materi yang kita peroleh tak seharusnya kita hambur-hamburkan untuk hal yang tak bermanfaat.

Semakin tinggi ilmu yang kita peroleh, baik itu yang kita peroleh dari bangku sekolah formal atau dari universitas kehidupan, tentunya akan semakin mendewasakan kita dalam berpikir. Bertambah banyaknya ilmu dan pengalaman, tak sepantasnya kita berperilaku layaknya anak-anak. Materi adalah hal yang akan mengikuti proses hidup kita. So, alangkah indahnya jika hidup tak melulu soal menimbun materi :)

Warna-warna primer dalam seni rupa itu, laiknya warna-warna dari sifat-sifat dasar yang kita miliki. Kebaikan dan kemurahan hati, keuletan, kesabaran dan sifat-sifat lainnya, akan mewarnai setiap gerak langkah kita. Dari satu per satu pemikiran, ucapan dan tindakan yang kita lakukan, akan membentuk kebiasaan dan akhirnya kita temukan karakter diri kita. Apakah karakter positif atau negatif yang lebih banyak melekat pada diri kita. Jadi, mau diberi warna seperti apa hidup kita ini? Mau dibawa ke mana hidup kita ini? Hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya.

Itulah sedikit tulisanku mengenai warna. Warna kehidupan tepatnya. Kalau dalam tulisanku sebelumnya ada yang bilang tentang belajar mengarang indah, ya mungkin ini salah satunya. Tetapi apapun itu, semoga tulisan ini dapat memberi sedikit manfaat yang bisa diambil pembaca. So, keep on writing! (menyemangati diri sendiri :) ) 









25 komentar:

  1. keren..

    tadinya saya kira tentang belajar menggambar..

    bikin hidup lebih berwarna dengan kebaikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih, Mbak Rahma..
      hihihi... kesan di paragraf pertama gitu ya.. iya, mari mewarnai hidup dengan kebaikan. sip :)

      Hapus
  2. aku tak hanya ingin hidupku berwarna, tapi aku ingin hidupku beraroma, ya aroma surga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali, Mbak Henny. semua yang kita lakukan di dunia kita usahakan berorientasi akhirat, sehingga aroma surga selaluu kita rindukan :)

      Hapus
  3. waduh, depannya mirip dikit (dikit aja) sama punyaku mbak.. tp belom ku publish.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. oiya? bener kan kalo ide itu bisa sama antara satu orang dengan yang lain? tapi pasti "rasa"nya akan berbeda :D
      ayo segera publish, Mbak.. colek saya ya :)

      Hapus
  4. Balasan
    1. makasih, Mbak Ira... salam kenal :)

      Hapus
  5. betul sekali hidup itu penuh warna..
    jadi gimana kita menyingkapinya, mau warna hitam, atau putih atau pink

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan tiap warna juga mempunyai interpretasi yang berbeda-beda bagi tiap orang :)
      tapi yang terpenting warnai hidup kita dengan hal-hal yang positif, karena akan banyak untungnya :)

      Hapus
  6. setiap warna memiliki arti...
    Buatlah warna seindah mungkin dalam hidupmu
    ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. mari buat hidup lebih indah dengan warna-warni kebaikan :)

      Hapus
  7. iya iya, jadi ingat warna primer. trims yaa, saya sudah lupa soalnya, eh diingatkan kembali :)

    setuju! menuntut ilmu itu agar nantinya kita juga bisa mengamalkannya demi kepentingan orang banyak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama, Mbak Tha :)
      nah, itu cita-cita mulia namanya :)

      Hapus
  8. lam kenal mba, kalo warna hitam putih itu masuk warna apa ya? sy pikir warna primer ternyata bukan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal kembali, Mbak Evrina :)
      warna hitam dan putih secara ilmiah dan teoritis bukan termasuk warna, Mbak.. coba search di Google :)

      Hapus
  9. seperti cita - citaku semenjak dulu : ingin bermanfaat buat orang lain :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba yuuk kita follow2an, maklumlamlah followerku dikit, hehehehehe :D
      www.unekunekaty.blogspot.com

      Hapus
    2. bagus dong, Mbak cita-citanya :)
      udah saya follow, Mbak. semoga setelah ini banyak yang follow, ya :p demikian juga blog saya :)

      Hapus
  10. Balasan
    1. semua warna sebenernya baik, ya, Mbak. cuma kadang orang yang menafsirkan beda-beda, ada yang positif atau negatif. kalau "warnai hidup dengan kebaikan" tentunya "menggambar hidup dengan beraneka macam kebaikan" dong, ya :)

      Hapus
  11. Warna kehidupan setiap org memang berbeda ya, tergantung warna apa yg setiap org itu torehkan. Good luck buat kontesnya ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget, Mbak. daripada menorehkan warna yang jelek lebih baik dan lebih untung menorehkan dengan warna yang baik kan... :)
      makasih supportnya :)

      Hapus
  12. aq suka ijo, tp berwarna warni kelihatannya indah ya mak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi... sama kayak aku, dong. hijau itu sesuatu :) tapi aku juga suka warna coklat, trus biru, trus.... hahahha...
      iya, berwarna-warni emang terlihat indah jika harmonis :)

      Hapus